01
Jun
12

Rokok…Nikmat Membawa Sengsara…!!!

Foto ketika saya masih ngudud (lagi pegang batang rokok)

Merokok bagi sebagian orang adalah kegiatan yang nikmat. Kalo perlu ngerokok dilakukan bebarengan dengan aktivitas lain seperti bekerja, baca koran/majalah, nyetir kendaraan hingga buang hajat di WC:mrgreen: Bahkan pernah ngeliat juga ada orang yang makan sambil diselingin dengan menghisap sebatang rokok😯 Tgl 31 Mei diperingati sebagai hari anti tembakau sedunia. Saya dulu seorang perokok, sekarang udah gak lagi. Yah…sekitar 8 tahun yang lalu deh saya berhenti ngerokok. Alasannya… setelah dipikir2 & direnungkan gak ada manfaat dari ngudud. Yang ada malah memperkaya konglomerat rokok, lihat aja tuh orang2 terkaya di Indonesia diisi oleh pengusaha2 rokok. 

Berikut saya kutip (sumber milis UGM) tulisan Tulus Abadi (YLKI) berjudul “Ironi Orang Terkaya dan Proses Pemiskinan Masyarakat”

Seharusnya pemerintah melahirkan regulasi yang kuat dan komprehensif untuk mengendalikan konsumsi rokok, jika tidak ingin dikatakan melegitimasi proses pemiskinan dan bahkan genosida kepada rakyatnya.”

MENJADI kaya, bahkan orang ter kaya sekalipun, merupakan hak setiap warga negara. Tak ada satu pun klausul dalam suatu regulasi di Indonesia yang melarang warganya untuk menjadi orang terkaya. Dalam konteks agama pun hal tersebut tidak dilarang. Bahkan, kalangan agamawan sering mendorong umatnya agar menjadi orang kaya. Satu hal yang layak disorot ialah bagaimana kekayaan itu diperoleh, misalnya, apakah kekayaan itu diperoleh melalui cara yang koruptif ?
Namun, dalam konteks orang-orang terkaya di Indonesia, yang dilansir oleh majalah Forbes (edisi 23/11/2011), hal itu tak urung melahirkan beberapa ironi. Misalnya, Budi Hartono dan Michael Hartono dengan jumlah kekayaan yang mencapai US$14 miliar (sekitar Rp127 triliun) menjadi ironis jika disandingkan dengan pendapatan rata-rata masyarakat Indonesia. Dengan kekayaan Rp127 triliun tersebut, berarti penghasilan Budi dan Michael Hartono per hari Rp345 miliar! Coba sandingkan dengan penghasilan rata-rata masyarakat Indonesia yang hanya Rp85.000 per hari. Bahkan, masih banyak orang yang penghasilannya kurang dari US$2 Amerika, per hari (batas garis kemiskinan standar Bank Dunia).
Ironi yang lebih konkret ialah ketika para orang terkaya tersebut adalah konglomerat yang bergelut dengan bisnis racun, yakni industri rokok. Peringkat pertama, Budi dan Michael Hartono, adalah bos PT Djarum (US$14 miliar); peringkat kedua Susilo Wonowijoyo, bos PT Gudang Garam (US$10 miliar, sekitar Rp91 triliun). Bahkan, jika dibandingkan dengan 2010, kekayaan Susilo Wonowijoyo mengalami peningkatan Rp1,3 triliun. Peringkat berikutnya (peringkat ke-9) adalah Putera Sampoerna, dengan jumlah kekayaan mencapai US$2,4 miliar.

Lalu pertanyaannya, mengapa kekayaan para konglomerat ini menjadi sebuah ironi, di manakah rasionalitasnya? Sebenarnya, dengan basis akal sehat yang paling sederhana sekalipun, tak terlalu sulit untuk menjelaskan hal tersebut; ironi, karena komoditas bisnis orang-orang terkaya itu adalah sebuah komoditas yang saat ini sedang diperangi oleh seluruh masyarakat dunia, yakni rokok (tembakau). Maka, jangan heran jika saat ini 172 negara telah meratifikasi Kerangka Konvensi Pengendalian Tembakau (Framework Convention on Tobacco Control/FCTC). Konvensi yang digagas oleh WHO ini–kini telah menjadi hukum internasional–adalah sebuah instrumen hukum untuk mengendalikan konsumsi tembakau di seluruh dunia.

Masyarakat dunia telah memosisikan tembakau (rokok) sebagai pandemi global, yang harus ‘diperangi’ (dikendalikan) bersama. Ironisnya, kendati turut berpartisipasi aktif dalam proses pembahasan FCTC, toh hingga kini pemerintah Indonesia tidak menandatangani dan meratifikasi FCTC. Oleh masyarakat internasional, pemerintah Indonesia sering  dicemooh karena hal tersebut. Bahkan, dalam suatu pertemuan internasional di bidang kesehatan, Indonesia diberi gelar ‘negeri asbak rokok’ (ashtray award). Ironi berikutnya, mayoritas perokok adalah anak-anak remaja dan masyarakat miskin. Saat ini, menurut hasil Global Youth Survei WHO (2010), tingkat pertumbuhan prevalensi merokok di kalangan anak-anak dan remaja di Indonesia sangat cepat, bahkan tercepat di dunia, yakni 14,5%. Maka menjadi logis jika akhirakhir ini muncul fenomena ‘balita merokok’ (baby smoker).

Bahkan, menurut keterangan Gubernur Kalimantan Timur, kini di seantero Kaltim terdapat kurang lebih 15 ribu balita yang gemar merokok! Mungkin fenomena itu hanya terjadi di Indonesia. Dalam suatu pertemuan internasional, bahkan banyak kalangan mempertanyakan kepada delegasi Indonesia, “…sebenarnya negara kamu itu ada apa, kok bayi-bayi sudah merokok….” Pertanyaan itu menjadi sangat serius jika dikaitkan dengan perspektif pembangunan sumber daya manusia (human development index).

Pun, ironi yang paling klimaks ialah manakala mayoritas perokok di Indonesia justru kalangan masyarakat miskin. Mereka, masyarakat
miskin, justru lebih banyak menghabiskan fulus untuk merokok. Menurut hasil survei ekonomi nasional (versi BPS, 2006-2007), masyarakat miskin justru menghabiskan penghasilan nomor dua per bulan untuk merokok, sebesar 12,4%. Nomor pertama tentu untuk mengonsumsi padi-padian (khususnya beras) sebesar 19%.Adapun alokasi untuk pendidikan dan kesehatan, tiga kali lipat di bawah konsumsi rokok. Pantas kemiskinan dan kebodohan terus merajalela di negeri ini.

Kesimpulan, saran sekali lagi, menjadi kaya dan bahkan terkaya merupakan hak mutlak setiap warga negara. Tetapi, jika kekayaan tersebut diperoleh dari menjual komoditas racun (rokok) dan korbannya adalah anak-anak, remaja, dan orang miskin, itu ironi yang sangat serius. Kekayaan mereka tak lebih dari pengisapan dari masyarakat rentan tersebut. Mereka, industri rokok, menari-nari di atas kebodohan dan kemiskinan masyarakat miskin, anak-anak, dan remaja. Proses yang amat sistematis ini seharusnya tidak dibiarkan oleh negara. Negara harus melakukan proteksi secara komprehensif untuk menyelamatkan anak-anak, remaja, dan masyarakat miskin dari pengisapan oleh industri rokok. Negara harus mengintervensi dengan membuat regulasi yang komprehensif untuk mengendalikan konsumsi rokok.

Hanya mengendalikan, tidak melarang, apalagi menutup industri rokok ! Juga tak sulit untuk melakukan hal itu: batasi penjualan dan pemasarannya, larang iklan dan promosi rokok, tegakkan kawasan tanpa rokok, plus naikkan cukai rokok. Tanpa ada pengendalian semacam itu, konsumsi rokok akan terus mewabah; dan anak-anak, remaja, plus masyarakat miskin menjadi korban massalnya. Seharusnya pemerintah melahirkan regulasi yang kuat dan komprehensif untuk mengendalikan konsumsi rokok, jika tidak ingin dikatakan melegitimasi proses pemiskinan dan bahkan genosida kepada rakyatnya.

Ortu teman saya terkena kanker paru karena perokok berat. Hartanya (properti, mobil, motor dsb) terkuras habis untuk berobat kesana kemari mulai dari pengobatan alternatif hingga kemoterapi.


10 Responses to “Rokok…Nikmat Membawa Sengsara…!!!”


  1. 2 Aa Ikhwan
    2 Juni 2012 pukul 5:40 am

    Smg pln2 bs dikurangi sampe bnr2 gak merokok lg

  2. 2 Juni 2012 pukul 7:14 am

    moco blog nyambi ngudud *hayo sopo hayo ?

  3. 2 Juni 2012 pukul 1:50 pm

    Waduh angel mas menghilangkan kebiasaan merokok…
    ada aja godaannya

  4. 5 Bjl
    2 Juni 2012 pukul 7:54 pm

    wedok sing tengah fesbuke opo?

  5. 2 Juni 2012 pukul 9:28 pm

    yuk belajr ngurangin ngerokok

  6. 3 Juni 2012 pukul 6:14 pm

    lha saya kalo nyium bau asap rokok, kepala bisa pusing berat, jadi ya gak minat ngerokok deh..

    btw, kekayaan sekian ratus triliun kok pendapatannya sekian ratus miliar sehari, dapetnya dari mana tuh? emangnya kekayaannya didapat dalam satu tahun saja?

  7. 8 Gogo
    5 Juni 2012 pukul 12:18 am

    kasian yg gak ngerokok..

  8. 9 Risang Sargo
    14 Juni 2012 pukul 4:29 pm

    Iya, Oom.. Kadang org lupa kl sehat itu mahal harganya.
    Jd lbh baik biasakan hidup sehat, jgn sampai menyesal dikemudian hari.
    Karena mencegah lbh baik drpd mengobati!!!

    Warm Regards & Success !

    Risang T. Sargo
    ~Your Financial Consultant
    Email: risang_sargo@yahoo.com
    Phone: 0816689884 / 02193458866
    PIN BB: 238F1C83

    “Protect Your Assets, Your Family & Your Future..
    Be Smart with Financial Planning! “

  9. 10 Gaga
    9 Agustus 2012 pukul 6:58 pm

    Padahal di setiap bungkus rokok sudah di tulis bahaya nya merokok, namun tetap saja di konsumsi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Disclaimer

Blog ini tergabung dalam komunitas OBI (Oto Blogger Indonesia). Tulisan di blog ini merupakan opini pribadi & tidak serta merta mencerminkan sikap OBI. Sikap OBI akan terpampang di agregator OBI. Masukan, saran & kritik bisa dialamatkan ke mitra5708@gmail.com
Juni 2012
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Arsip

Pengunjung yang mampir ke blog ini sejak 26 Januari 2010

  • 6,469,619 hits

Masukkan alamat email Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 376 pengikut lainnya

Suka Blognyamitra ???

Blog ini mendukung


%d blogger menyukai ini: