25
Jul
10

Sejarah Industri Mobil Di Indonesia (Bagian II – Habis)

Artikel masih berkaitan dengan artikel terdahulu, sumbernya tetap sama yaitu dari Gaikindo. Biar gak sepi penulis kasih gambar mobil sport eksotis negeri matahari terbit. Selamat membaca🙂

 
 

Subaru Impreza WRX STI

 

Timeline industri otomotif Indonesia dapat digambarkan sebagai berikut :

Era 1969 – 1979
a. Tahun 1969
Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan mengeluarkan surat keputusan bersama untuk mengatur impor kendaraan bermotor, baik dalam kondisi completely built up (CBU) dan completely knocked down (CKD) serta pendirian pabrik perakitan dan agen tunggal di dalam negeri. Pabrik perakitan dan industri pendukungnya seperti industri yang memproduksi ban, cat dan aki mulai bertumbuh. Perusahaan lokal mampu mendesain jigs dan fixtures dan melaksanakan beberapa proses seperti mencat, melas, trimming, dan metal finishing.

b. Tahun 1971
PT. Krama Yudha Tiga Berlian Motors yang memasarkan mobil keluaran Mitsubishi adalah perusahaan pertama yang mendapatkan izin untuk beroperasi sebagai agen tunggal. Penjualan domestik diperkirakan berjumlah 50.000 unit per tahun.

c. Tahun 1974
Untuk membangun industri otomotif dalam negeri, Pemerintah melarang impor kendaraan CBU. Hanya agen tunggal yang waktu itu berfungsi sebagai pabrik perakitan, yang diizinkan mengimpor kendaraan dalam bentuk CKD.

d. Tahun 1976
Pemerintah mengeluarkan serangkaian peraturan yang terkenal dengan sebutan Program Penanggalan. Bagian pertama paket kebijakan ini menerapkan bea masuk yang tinggi untuk kendaraan – kendaraan yang tidak menggunakan stamping parts yang diproduksi dalam negeri.

  • Ada 35 merek yang saling bersaing untuk menarik konsumen. Daya beli masih lemah karena kondisi ekonomi Indonesia baru mulai membaik.
  • Pemerintah memprioritaskan pengembangan minibus dengan menerapkan pajak yang lebih tinggi untuk sedan dan pajak yang lebih rendah untuk minibus, seperti Toyota Kijang dan Mitsubishi Colt T120.
  • Produsen komponen umum berkembang dan mulai menghasilkan radiator, knalpot, shock absorber, pelek, interior dan kursi, kabel, gasket, komponen plastik, sasis, stamping parts, jigs dan komponen dari karet.
  • Pabrik penghasil komponen membuat bukan saja komponen OEM tetapi juga suku cadang untuk layanan purna jual.
  • Penjualan tahunan perlahan – lahan bergerak ke 72.000 unit pada tahun 1976 dan 103.000 unit pada tahun 1979. 
  • Kebijakan – kebijakan Pemerintah era 1969 dan 1979 yaitu :
    a. SK Menteri Perindustrian No.307/M/SK/8/76.
    b. SK Menteri Perindustrian No.231/M/SK/11/78.
    c. SK Menteri Perindustrian No.168/M/SK/9/79 tanggal 6 September 1976 perihal Penegasan Memperlakukan Kembali Surat Keputusan Menteri Perindustrian No.307/M/SK/8/1976 tentang Ketentuan Keharusan Mempergunakan Komponen Buatan Dalam Negeri Dalam Perakitan Kendaraan Bermotor Komersil.

Era 1980 – 1989
Untuk mendorong pengembangan produsen komponen lokal, pada tahun 1983 Pemerintah mengeluarkan Program Penanggalan bagian kedua. Bea masuk yang tinggi diterapkan untuk komponen–komponen utama.

  • Industri pendukung mulai memproduksi komponen utama
    seperti transmisi, kopling, power train (termasuk mesin), sistem
    rem, komponen yang ditempa dan dicor serta window regulator.
  • Dua puluh tujuh merek bersaing di pasar domestik.
  • Penjualan mobil melonjak ke 208.000 unit pada tahun 1981 tetapi menurun ke antara 150.000 dan 170.000 unit pada beberapa tahun berikutnya.
    Kebijakan – kebijakan Pemerintah era 1980 – 1989 yaitu :
    a. SK Menteri Perindustrian No.349/M/SK/8/80.
    b. SK Menteri Perindustrian No.371/M/SK/9/83.
    c. SK Menteri Perindustrian No.117/M/SK/4/86.
    d. Devaluasi Rupiah pada tahun 1983 sebesar 27,5%.
    e. Devaluasi Rupiah pada tahun 1986 sebesar 31,0%.
    f. Kebijakan uang ketat pada tahun 1987.
    g. Regulasi bidang perbankan tahun 1989.

Era 1990 – 1998
Dampak kebijakan uang ketat tahun 1991 membuat volume penjualan mobil pada waktu itu mengalami penurunan. Ini terlihat dari laporan Gaikindo yang mencatat jumlah mobil yang terjual pada tahun 1992 sebesar 170.000 unit, jauh berbeda dengan tahun 1991 yang berada di kisaran 261.000 unit.

Pemerintah mengganti Program Penanggalan dengan Program Insentif yang dikenal dengan Paket Kebijakan Otomotif 1993. Produsen mobil diperbolehkan memilih sendiri komponen mana yang akan menggunakan produk lokal dan akan mendapatkan potongan bea masuk, atau bahkan dibebaskan dari bea masuk, jika berhasil mencapai tingkat kandungan lokal tertentu. Program ini telah dijalankan oleh Toyota dengan Kijang generasi ketiganya (1986 – 1996) dimana kandungan lokalnya sudah mencapai 47%.
Begitu juga yang dilakukan oleh Indomobil yang mengeluarkan mobil Mazda MR (Mobil Rakyat). Kebijakan yang menghimbau untuk menggunakan banyak komponen lokal sedikit terhambat karena komponen – komponen pendukung sektor otomotif di Indonesia masih belum mampu menyediakan komponen dengan tingkat kepresisian yang tinggi sebagaimana yang dibutuhkan oleh para produsen otomotif.
a. Tahun 1993
– Pabrik produsen mesin, transmisi dan propeller shafts bertumbuh, menghasilkan produk tidak saja untuk pasar domestik tetapi juga pasar internasional.
– Sekitar 24 merek bersaing ketat untuk menarik pelanggan.
– Tingkat ekonomi yang membaik mendorong angka penjualan mobil dari 159.000 unit di tahun 1989 menjadi 214.000 unit pada tahun 1993 dan 397.000 unit pada tahun 1995.

b. Tahun 1996
Pemerintah memutuskan untuk mempercepat Program Insentif dan memperkenalkan Program Mobil Nasional dengan mengatur bahwa untuk mendapatkan pembebasan bea masuk, perusahaan harus mencapai tingkat kandungan lokal sebesar 20 persen, 40 persen dan 60 persen di tahun pertama, kedua dan ketiga.
– Surat Instruksi Presiden (Inpres) No.2/1996 tentang Program Mobil Nasional, dikeluarkan untuk memperbaiki sistem deregulasi untuk menyambut adanya pasar bebas tahun 2003.
– PT. Timor Putra Nasional (TPN) yang bermitra dengan KIA Motors dari Korea Selatan adalah perusahaan pertama yang mendapatkan pembebasan bea masuk barang mewah melalui program ini. TPN dipercaya untuk memproduksi mobil nasional yang bernama Timor (Teknologi Industri Mobil Rakyat).
– Pada bulan Juni 1996, Pemerintah kembali mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) No.42 yang berisi tentang diizinkannya TPN mengimpor mobil utuh dari Korea Selatan asalkan mobil Timor dikerjakan tenaga kerja asal Indonesia di pabrik Kia di Korea Selatan, serta dalam waktu 3 tahun,
TPN harus bisa memenuhi kandungan lokal pada mobil Timor-nya sebanyak 60%.
– Perusahaan – perusahaan otomotif lain (Jepang, Amerika Serikat dan Eropa) yang tidak mendapatkan insentif pajak yang sama, melakukan protes World Trade Organization (WTO). Sebenarnya Inpres itu juga mengatur, siapapun bisa mendapatkan predikat mobil nasional yaitu bila komponen
lokalnya sudah mencapai 60% dengan memakai merek nasional dan dilakukan oleh perusahaan swasta nasional, bukan kepanjangan tangan dari prinsipal.
– Pembebasan pajak barang mewah, selain bea masuk, untuk kendaraan yang memiliki kandungan lokal 60 persen mendorong produsen untuk menanamkan modal dalam pabrik – pabrik baru seperti pabrik mesin dan casting, yang menghasilkan barang setengah jadi.
– Selain Timor, berkembang juga merek – merek nasional lain seperti Sena, Morina (Bakrie), Maleo, Perkasa, Kancil dan Astra. Namun sayangnya keberadaan mereka tak semulus Timor yang dipimpin oleh Hutomo Mandala Putra.
– Timor digugat Jepang dan Amerika Serikat di WTO dan akhirnya TPN kalah.
– Dua puluh merek asing dan nasional bersaing dalam pasar lokal.
– Penjualan mobil turun ke 372.000 unit pada tahun 1996.

c. Tahun 1997
Asia ditimpa krisis moneter dan Indonesia mengalami tekanan yang paling berat. Rupiah jatuh dari Rp2.500 per dolar Amerika ke Rp17.000 per dolar. Kerusuhan merajalela yang kemudian dikenal dengan kerusuhan Mei 1998.
– Banyak perusahaan bangkrut karena hutang luar negerinya berlipat empat atau lebih.
– Harga BBM Premium per liter melonjak dari Rp700 (1997) menjadi Rp1200 (1998).
– Impian untuk menghasilkan mobil nasional Timor pun akhirnya kandas di tengah jalan.
– Setelah mencapai angka penjualan tertinggi sebesar 392.000 unit di tahun 1997, penjualan mobil jatuh ke hanya 58.000 unit sepanjang tahun 1998.
Kebijakan – kebijakan Pemerintah era 1990 – 1998 yaitu :
a. SK Menteri Perindustrian No.111/M/SK/10/90.
b. SK Bersama No.201/KPB/VII/92 dan SK No.107/M/SK/VII/92 tentang Impor Mesin, Peralatan Mesin dan Barang Modal Lainnya Dalam Keadaan Bukan Baru.
c. Kebijakan uang ketat tahun 1991.
d. Paket Juni 1993 (Pakjun 93) tanggal 10 Juni 1993.
e. Paket Mei 1995 (Pakmei 95) tanggal 23 Mei 1995.
f. Paket Juni 1996 (Pakjun 96) tanggal 4 Juni 1996, PP No.36 tahun 1996 tanggal 4 Juni 1996 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 1994 tentang Pelaksanaan Undang – undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan
Atas Barang Mewah Sebagaimana Telah Diubah Dengan Undang – undang Nomor 11 Tahun 1994, Sebagaimana Telah Diubah Dengan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1996 dan Keppres No.42 tahun 1995 tanggal 19 Juni 1995 tentang Bea Masuk, Bea Masuk Tambahan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah dan Pajak Penghasilan Dalam Rangka Pelaksanaan Proyek Pemerintah Yang Dibiayai Dengan Hibah.
g. Inpres No.2 tahun 1996 tanggal 19 Februari 1996 perihal Pembangunan Industri Mobil Nasional.
h. Keppres No.20/98, SK No.19/MPP/KEP/98 dan SK No.20/MPP/KEP/98.

Era 1999 – sekarang

Liberalisasi pasar masuk ke Indonesia setelah Pemerintah mengeluarkan Paket Kebijakan Otomotif 1999 yang bertujuan untuk mendorong ekspor produk otomotif, menggerakkan pasar domestik pasca krisis dan memperkuat struktur sektor otomotif dengan mengembangkan industri pembuatan komponen. Program Insentif ditinggalkan dan bea masuk rata – rata diturunkan sampai setengahnya.
Adapun Paket Kebijakan Otomotif 1999 mempunyai :
Tujuan : Industri otomotif dengan efisiensi yang tinggi dan kompetitif.
Strategis :

  • Fokus membangun komponen industri
  • Melanjutkan dan meningkatkan industri kendaraan
    komersial (kurang dari 5 ton)
  • Membangun industri mobil sedan dengan kapasitas
    hingga 1500 cc

Kebijakan :

  • Pasar domestik terbuka
  • Meningkatkan pasar ekspor
  • Meramal struktur industri
    a. Kendaraan CBU masuk kembali ke pasar dalam negeri dan
    kendaraan – kendaraan mewah seperti Jaguar dan Lexus mulai
    terlihat meluncur di jalan. Importir mobil CBU mulai
    berkembang.
    b. Kompetisi menjadi semakin ketat karena produk lokal harus
    bersaing dengan produk impor, yang berarti produsen lokal
    harus meningkatkan kualitas.
    c. Penjualan melonjak tinggi dari 94.000 unit pada tahun 1999 ke
    301.000 unit pada tahun 2000, setahun setelah Pemerintah
    membuka pasar domestik. Angka tersebut terus menanjak ke
    483.000 unit pada tahun 2004.

Mitsubishi Lancer Evo X FQ-400

Kebijakan – kebijakan Pemerintah era 1999 – sekarang yaitu :

  • PP No.59 tahun 1999 tanggal 24 Juni 1999 tentang Perubahan
    Ketiga Atas Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 1994
    tentang Pelaksanaan Undang – undang Nomor 8 Tahun 1983
    tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak
    Penjualan Atas Barang Mewah, Sebagaimana Telah Diubah
    Dengan Undang – undang Nomor 11 Tahun 1994; Paket Juni
    1999 (Pakjun 99).
  • PP No.145 tahun 2000 tentang Kelompok Barang Kena Pajak
    Yang Tergolong Mewah Yang Dikenakan Pajak Penjualan Atas
    Barang Mewah tanggal 22 Desember 2000, SK Menteri
    Perindustrian dan Perdagangan No.49/MPP/KEP/2/00 tanggal
    25 Februari 2000 tentang Persyaratan Impor Kendaraan
    Bermotor Dalam Keadaan Utuh (CBU), SK No.569/KMK.04/00
    dan SK No.97/KMK.05/00.
  • SK No.586/PJ/01, SK Menteri Keuangan No.460/KMK.03/01,
    PP No.60 tahun 2001 tentang Perubahan Atas Peraturan
    Pemerintah Nomor 145 Tahun 2000 tentang Kelompok Barang
    Kena Pajak Yang Tergolong Mewah Yang Dikenakan Pajak
    Penjualan Atas Barang Mewah; dan SK Menteri Perindustrian
    dan Perdagangan No.172/MPP/05/01.
  • SK Menteri Perindustrian dan Perdagangan
    No.756/MPP/KEP/11/02.
  • PP No.43 tahun 2003 tanggal 31 Juli 2003 tentang Perubahaan
    Keempat Atas Peraturan Pemerintah Nomor 145 Tahun 2000
    tentang Kelompok Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah
    Yang Dikenakan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah
    (PPnBM), SK Menteri Perindustrian dan Perdagangan
    No.411/MPP/KEP/06/03 dan No.458/MPP/KEP/07/03.
  • PP No.41/2005 tanggal 25 Oktober 2005 yang menggantikan
    PP No.43/2003 tanggal 31 Juli 2003 tentang PPnBM.
    g. PP No.12/2006 tanggal 15 April 2006 yang menggantikan PP
    No.41/2005 tanggal 25 Oktober 2005.

7 Responses to “Sejarah Industri Mobil Di Indonesia (Bagian II – Habis)”


  1. 1 ilham
    25 Juli 2010 pukul 12:25 pm

    Pertamax…..

    Thanks mas… td udah dikirimin datanya via email…..

  2. 26 Juli 2010 pukul 4:13 am

    pengin beli honda life tahun 1974 simungil ngirit tapi takut diomelin istri karena biaya harian yang dikeluarin akan mengganggu cash flow ADRT…hik..hik..hik..nyesek juga neh😀

  3. 26 Juli 2010 pukul 10:29 am

    Mitsubishi Evo series emng kerenn…tp bensinnya borosss amirr:mrgreen:

  4. 11 Oktober 2010 pukul 11:41 am

    sejarah mobil bagian pertamanya mana ya mas? lagi butuh banyak info tentang mobil nih.. thanks


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Disclaimer

Blog ini tergabung dalam komunitas OBI (Oto Blogger Indonesia). Tulisan di blog ini merupakan opini pribadi & tidak serta merta mencerminkan sikap OBI. Sikap OBI akan terpampang di agregator OBI. Masukan, saran & kritik bisa dialamatkan ke mitra5708@gmail.com
Juli 2010
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Arsip

Pengunjung yang mampir ke blog ini sejak 26 Januari 2010

  • 6,486,930 hits

Twitter

Masukkan alamat email Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 378 pengikut lainnya

Suka Blognyamitra ???

Blog ini mendukung


%d blogger menyukai ini: